Personality Traits vs Personal Achievement

Tentu saja saya setuju bahwa kepribadian yang menarik menjadi faktor penting dalam mencapai kesuksesan. Kesuksesan dalam berbagai bidang. Lagi-lagi saya juga setuju bahwa dalam mencari teman pun kita harus melihat sifat dan perilakunya, bukan hanya lihat dia anak siapa, anak orang kaya atau tidak, dan sebagainya. Pun saya sendiri punya kriteria dalam mencari teman yaitu tulus, pintar, baik, ramah, rendah hati, senang bercanda dan menerima saya apa adanya. Capek deh, begitu tahu kalau ternyata teman yang mau berteman sama kita tidak punya niat tulus.

Kemudian, seiring bertambah tuanya usia, bertambahnya pengalaman, meningkatnya kebutuhan, perubahan paradigma dan peneguhan prinsip saya memandang bahwa pleasant personality saja belum cukup dijadikan pertimbangan dalam mencari teman, saya juga melihat personal achievement dia apa saja. Personal achievement ini yang saya anggap sebagai wujud nyata dari pleasant personality seseorang, bahwa ini orang berhasil membuktikan cita-citanya, pendapatnya, ucapannya, kegelisahannya, dan lain-lain. Dia berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa meraih prestasi sebanyak-banyaknya tanpa mengorbankan indahnya masa muda.

Memangnya apa saja sih yang termasuk personal achievement?

Personal achievement versi saya pribadi adalah :

1. Lulus SMA mau melanjutkan kuliah ke jenjang D3 atau S1.

2. Lulus kuliah tepat waktu.

3. Bekerja dan serius menjalani kariernya.

4. Menikah.

5. Pergi haji atau umrah.

6. Beli mobil dan rumah dari tabungan sendiri.

7. Punya usaha bisnis sendiri.

8. Berbakti kepada kedua orang tuanya dengan membuktikan hal riil seperti menafkahi mereka dan perhatian kepada mereka.

9. Punya lingkup pergaulan yang creme de la creme.

10. Tetap rendah hati.

Digenapi sepuluh dulu karena memang yang saya perhatikan selama ini adalah kesepuluh hal tersebut. Saya berpendapat bahwa personal achievement ini penting dimiliki setiap orang karena setiap orang bisa menjadi teladan bagi orang lain, cuma masalahnya mau menjadi teladan baik atau teladan buruk adalah pilihan. Dengan segala kelebihan dan kekurangan, setiap orang bisa menjadi inspirasi untuk orang lain. Meskipun dia teladan baik tapi tetap punya kekurangan dan bagi yang teladan buruk juga masih punya kelebihan, dan itu semua adalah hal manusiawi.

Sukses adalah tentang proses dan komitmen dalam menjalani proses itu sendiri

Inside Us

Ada apa di dalam diri kita? Hanya kita dan Tuhan yang tahu. Seberapa banyak hal yang disimpan dalam hati dan pikiran? Hanya kita dan Tuhan yang tahu. Seberapa sedih, sakit, kecewa atau bahagianya kita? Hanya kita dan Tuhan yang tahu. Seberapa besar keinginan kita untuk menunjukkan perasaan dan pikiran? Mungkin hanya Tuhan yang tahu.

Iya, jika sudah menuju kepada hal mengeluarkan pendapat, menyatakan perasaan, ekspresi, kadang kita sendiri juga tidak tahu seberapa besar keinginan kita untuk menunjukkan itu semua. Tidak jarang, kita sering menunda mewujudkan ide dalam kepala dan perasaan dalam hati menjadi kata-kata karena kita anggap tidak penting untuk diungkapkan atau menunggu waktu dan saat yang tepat untuk menunjukkannya. Namun, keputusan untuk tidak mengungkapkan atau mengungkapkan adalah wujud bahwa sebenarnya orang yang paling mengerti diri kita ini ya kita sendiri, bukan orang lain. Kemudian jika keputusan itu benar atau salah, tepat atau tidak tepat adalah masalah pembelajaran. Lapang hati, sportif atau legowo adalah penawarnya.

Saya pernah menonton liputan tentang kegiatan sehari-hari seorang Giorgio Armani. Di balik nama besarnya, karya besarnya, prestasi besarnya dan sebagainya, ternyata Armani adalah orang yang kesepian. Dia mengatakan bahwa orang selalu takut dan ragu mendekatinya, mengajaknya mengobrol, yang intinya mereka semua takut menganggu seorang Giorgio Armani. Padahal dia ingin sekali diperlakukan seperti orang biasa lainnya, nama besarnya tidak bisa memberikan kebahagiaan jika akhirnya orang hanya bisa mengaguminya atau tersenyum kepadanya dari jauh. Saya dan jutaan pemirsa yang sedang menonton tersebut juga tidak akan tahu gelisah di hatinya jika dia tidak memberitahukannya. Dari situ saya mengerti, jika seorang populer sekelas Armani saja harus proaktif dan asertif dalam menyatakan pendapat dan perasaannya apalagi saya yang cuma orang biasa? Sepertinya, Armani telah berhasil menyembuhkan sifat autis sosial saya yang berkeyakinan orang seharusnya tahu apa yang sedang saya pikirkan dan rasakan, hell no! Kalau dipikir-pikir, sok penting banget gue?! Hehehe.

Memang, kita tidak bisa selalu menyatakan pendapat dan perasaan karena kita harus memikirkan resiko, baik-buruknya, manfaat-mudharatnya jika kita berkata demikian. Ada saatnya spontan, ada juga saatnya berpikir dahulu sebelum berkata-kata. Belajar dari pengalaman orang lain adalah hal cerdas di mana kita tidak perlu membuat kesalahan, kita masih bisa belajar dari kesalahan orang lain. Begitupun, kita bisa belajar dari pengalaman yang benar dari orang lain. Hanya diatur saja porsi dan frekuensinya, kalau takut ambil resiko, untuk apa hidup?

Dalam hal tidak bisa mengemukakan pendapat dan perasaan kepada orang lain secara lisan dan langsung, saya sering menulis di buku harian atau blog ini. Kadang sulit melalui lisan, meski lebih praktis sebenarnya. Apalagi di saat saya merasa tidak yakin akan ada orang yang suka dan mengerti jika saya mencurahkan isi hati ini kepadanya atau saya sudah mencoba namun tidak berhasil.

Namun banyak juga yang saya simpan dan hanya berputar dalam pikiran saja, beberapa ada yang dilupakan dan ada yang masih diingat. Bagi yang masih diingat biasanya jadi bahan renungan, bukan jadi pemicu trauma atau skeptis.

Bagaimana dengan pendapat orang lain terhadap diri kita? Itu juga penting. Karena orang lain bagai cermin. Justru berkat mereka lah akhirnya kita mengenal dan memahami diri kita sendiri. Mereka yang tulus mampu melihat kebutuhan dan keinginan yang terpendam kemudian mereka mengeluarkan yang terpendam tersebut dan menunjukkannya kepada kita, tidak jarang mereka mendorong dan membantu kita memenuhi kebutuhan dan mewujudkan mimpi tersebut. Kadang mereka bisa melihat “inside us” melalui mata hati yang tulus dan jujur di saat kita sendiri tidak mengetahui “inside us” milik kita sendiri tersebut.

Saat melihat sinar x-ray dan stetoskop milik dokter kadang saya berkhayal jika saja hasil foto x-ray bisa menangkap isi hati dan pikiran kita, jika saja stetoskop bisa mendengar isi hati dan pikiran kita. Tapi kita sudah punya “sinar x-ray” dan “stetoskop” di sekeliling kita yaitu orang tua, saudara, suami/istri, teman dan sahabat yang tulus dan jujur melihat diri kita apa adanya.

“Seorang konsultan psikologi paling jenius sekalipun tidak lebih mengerti tentang pikiran dan keinginan kita lebih daripada diri kita sendiri”

Things I Hate

Waktu baca blognya Tasa tentang sikap orang Indonesia terhadap Amerika Serikat, entah kenapa ingatan gue langsung melanglang kepada beberapa orang yang pernah/sedang tinggal di luar negeri (tidak hanya Amerika Serikat) yang berubah menjadi menyebalkan terhadap gue dan beberapa orang lainnya. Satu yang gue benci karena mereka jahat sama gue padahal gue gak jahat sama mereka, setidaknya gue berusaha menjaga perasaan orang agar dia tidak tersinggung atau sedih gara-gara gue. Gue benci sama ketidakseimbangan, ketidakadilan, kemunafikan yang kadang bisa membuat amarah gue memuncak sampai harus ditenangkan sama orang lain, tapi untunglah hal itu sangat jarang terjadi hehe.

Gue merasa sudah OOT di artikel tersebut, karena waktu kasih reply memang ingatan gue ke sana. Tapi gue sama sekali tidak menuduh semua orang yang pernah atau sedang tinggal di luar negeri sejelek itu, gue kebetulan sedang membahas beberapa orang yang belagu karena pernah atau sedang tinggal di luar negeri. Grrrrr. (*sabar buuuu!)

Tapi kekesalan gue itu mereda ketika gue ingat orang lain yang juga belagu tapi dia gak pernah ke luar negeri. Yah, orang belagu ada dimana-mana, mau gimana lagi! Sabar-sabar! Yang penting adalah gue jangan jadi orang belagu!

Kemudian hal lain yang membuat be-te adalah gue gak dianggap siapa-siapa. Bukan artinya gue sok penting tapi memang dia suka mengacuhkan gue tanpa sebab jelas, lebih welcome sama temen yang lain dan lain-lain sampai gue sedih dan kecewa. Untuk yang satu ini, gue gak bisa marah atau benci karena yang terjadi biasanya adalah menjadi sedih dan kecewa. Bahkan akhir-akhir ini gue merasa diperlakukan demikian ma seseorang atau beberapa orang, dan gue berusaha untuk tidak menuduhnya telah memandang gue sebelah mata, gue udah berusaha melupakan itu dan gak memikirkan apakah dia benar telah begitu dan lain-lain, sampai suatu peristiwa terjadi dan gue berusaha untuk tidak emosi sebelum tahu yang sebenarnya tapi akhirnya gue memutuskan untuk benar-benar pergi dan melupakannya. Tapi itu bukan satu-satunya alasan karena masih banyak alasan lain tapi memang yang gue rasakan dari awal adalah hal paling kuat dijadikan alasan untuk pergi. Pergi bukan untuk bermusuhan, tapi untuk menyelamatkan hati dan pikiran gue dari prasangka buruk yang bisa menyerang gue kapanpun. Gue bukan tipe orang yang mudah berkata-kata saat marah, gue adalah tipe pemaaf dan pemberi kesempatan, tapi ketika gue rasa itu semua cukup maka gue tegaskan untuk mengambil tindakan. Tindakan yang bisa berarti wujud indifferent gue terhadap dia dan beberapa orang yang sudah membuat gue tidak nyaman. Tapi gue rasa tindakan ini umum dilakukan oleh banyak orang yang memang tidak suka frontal menyatakan keberatannya. Jika memang amarah itu tidak bisa ditahan lagi, maka lebih baik diam dan pergi.

Sabar-sabar…..

* Gue cerita di blog karena gue anggap blog ini adalah media yang pas untuk menampung uneg-uneg saat menulis ini, gue cuma perlu “kantong muntah”

“Life is about ups and downs”

Aku Juga Cinta Bumi

Gara-gara membaca blog sebelah dan sebelahnya lagi serta di media massa membuat saya harus mengakui sudah seberapa besar cinta dan kontribusi kita terhadap pelestarian lingkungan hidup? Belum banyak namun saya cukup peduli dengan lingkungan khususnya udara segar, pepohonan dan cadangan air bersih.

Ya, saya paling merinding membaca prediksi bahwa dunia akan krisis air bersih dan prediksi yang menambahkan akan timbul perang untuk memperoleh sumber dan pasokan air bersih kelak. Saya paling terkesiap jika membahas air bersih karena entah kenapa saya paling peduli jika menemukan suatu artikel yang berhubungan dengan air bersih. Mungkin karena pendidikan di rumah yang menekankan tentang pentingnya menghemat air bersih sampai Mama membuat serapan air di halaman belakang untuk menampung air hujan termasuk air kotor bekas aktivitas rumah tangga. Tidak percuma karena di saat musim kemarau, di saat orang lain menambah dalam galian pompa jet-nya namun rumah saya tidak pernah kekurangan air.

Kemudian mengenai udara segar dan pepohonan, saya senang menghirup udara segar dan teduhnya pepohonan, melihat bunga bermekaran berwarna-warni. Saya tidak suka melihat bunga dicabut dan dijadikan buket atau rangkaian untuk hiasan, hadiah dan lain-lain karena menurut saya sangat tidak manusiawi memisahkan bunga cantik tersebut dari tanahnya, bagai membunuh mereka perlahan-lahan. Meski masih bisa ditaruh di vas berisi air namun menurut saya, tanah adalah hidup dan kehidupan sejati bagi bunga-bunga cantik tersebut (selain tanaman hias lainnya). Tapi sepertinya tidak banyak orang yang mengetahui jika saya tidak suka bunga yang dipisahkan dari pot atau tanahnya.

Antara pepohonan, udara segar dan air bersih memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain bahwa pohon adalah tempat air bersih bersemayam yang mampu memberikan udara segar bagi makhluk hidup di sekitarnya. Bahwa udara segar adalah nafas untuk pepohonan tersebut yang membuat daunnya tetap segar (meski pohon menghirup karbondioksida tapi yang mereka perlukan tentu karbondioksida segar bukan hasil polusi dan semacamnya). Bahwa air bersih adalah makanan dan minuman untuk pohon tersebut.

Baiklah, saya memang belum sampai pada tahap peduli dan aktif terhadap daur ulang sampah, penghentian penggunaan produk plastik, CFC, dan sebagainya karena saya bukan aktivis pecinta lingkungan. Tapi saya tetap peduli lingkungan dan mencintai bumi sebagaimana adanya.

“Peliharalah bumi, dan ia akan memelihara anda”

Hancur Berkeping-Keping

Ini tidak ada hubungannya dengan artikel sebelumnya yang judulnya juga mengandung kata Hancur.

Saya ingin membahas sedikit mengenai cara mengatur uang yang biasanya baru menjadi perhatian di kala posisi sudah terjepit, namun saat pundi-pundi saldo kembali gemuk maka kita akan lupa dan tetap begitu, berulang terus menerus sampai akhirnya menjadi guilty pleasure.

Meski -sekali lagi- cara mengatur uang mungkin jarang mendapat perhatian namun hal ini sebaiknya sudah ditanamkan sedari kecil. Saya mengagumi orang tua yang sudah mengajarkan bagaimana cara berhemat dan perjuangan mencari uang kepada anak-anaknya sehingga menjadikannya sebagai salah satu faktor penting selain agama, pendidikan dan kesehatan. Mungkin termasuk dalam pendidikan juga tapi sebaiknya lebih spesifik karena seumur hidup kita akan berurusan dengan uang.

Karena berkat uang pula lah, bisa menentukan sukses atau gagalnya hidup seseorang, bisa membuatnya menjadi materialistis atau dermawan, bisa membuat dirinya mempunyai nilai plus atau nilai negatif dan sebagainya.

Lebih baik kita belajar dari sekarang tentang bagaimana cara mengatur uang, mengetahui sumber uang yang halal dan berkah, mengetahui cara bagaimana menambah uang dengan benar dan masuk akal dan lain-lain, sehingga saat menjelang akhir bulan kita tidak perlu meratapi isi dompet dan saldo minimum di rekening yang uangnya sudah hancur berkeping-keping yaitu uang kita benar-benar berupa uang keping, uang receh yang merupakan uang kembalian yang barangkali hasil perbuatan boros kita selama satu bulan.

“Uang memang bukan segala-galanya, tapi tanpa uang akan susah segala-galanya”

Hancurkan Tembok Berlin Yang Ini!

Tembok Berlin mana lagi? Mimpi atau ketinggalan berita nih? Bukan Tembok Berlin yang sebenarnya, tapi Tembok Berlin yang memisahkan antara pergaulan dunia nyata dan dunia maya. Meski nampaknya sudah sangat amat basi untuk dibahas, tapi artikel ini dibuat untuk sekedar mengingatkan kita semua.

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, meski bergaul lewat dunia maya lebih “aman” karena tidak perlu bertatap muka, bisa menyembunyikan identitas sebenarnya dan lain-lain namun akan lebih bertanggung jawab jika kita tidak bersikap aji mumpung dan tidak berlebihan saat berinteraksi dengan orang lain yang baru dikenal di dunia maya. Misalnya mengganggu, ngerjain komputernya dengan mengirim virus atau spam, meneror, melakukan kejahatan cyber dan sebagainya.

Kemudian cara bergaul di dunia maya itu harus bagaimana ya? Seorang blogger yang menamakan dirinya Panjalu membahas tentang hal ini dalam artikelnya yang berjudul Adab Pergaulan di Dunia Maya. Saya setuju dan paham dengan ulasannya tersebut, bahwa kita tanpa sadar suka lupa bahwa orang yang kita ajak bicara melalui komputer adalah orang yang punya emosi dan perasaan juga (there is a human behind the screen), bahwa kadang kita sendiri tidak konsisten dalam berperilaku saat di dunia nyata dan di dunia maya, sehingga meski berpendapat “tidak ada bedanya antara bergaul di dunia maya dengan di dunia nyata” tapi pada kenyataannya kita telah menciptakan Tembok Berlin yang memisahkan diri kita yang sebenarnya di dunia nyata dengan diri kita yang -mungkin- selama ini tersimpan dan tidak pernah dikeluarkan di dunia nyata dan baru dikeluarkan di dunia maya, jika hal ini terus berlanjut maka tidak menutup kemungkinan kita telah mengidap penyakit psikologis.

Bagi saya pribadi, berkenalan dengan orang di dunia maya melalui forum diskusi atau blog adalah hal baru yang menyenangkan, tapi saya lebih memilih berinteraksi lebih akrab dengan orang yang masih ada hubungan pertemanan atau persaudaraan dengan orang yang saya kenal di dunia nyata, yang istilahnya half-stranger. Bukan artinya saya menaruh curiga atau menuduh bahwa orang asing yang telah berdiskusi dan mengobrol dengan saya itu jelek atau apa, tidak sama sekali, ini hanya masalah kenyamanan saja dan ini adalah hak saya sepenuhnya, semoga maklum.

Saya pun masih berusaha untuk tidak memperlakukan diri saya bagai orang yang mencari pelampiasan ekspresi di dunia maya, karena saya terus mengingatkan diri ini bahwa kelak ada kemungkinan bertemu dengan orang tersebut di dunia nyata dan supaya tidak terlalu mati gaya dan membuat dia bingung, makanya jangan gilaaaa dooongg! hehe. Dan saya sudah beberapa kali mencobanya, berusaha meniadakan Tembok Berlin tersebut, kalau ketemu di dunia maya akrabnya minta ampun tapi saat bertemu di dunia nyata pura-pura tidak kenal, ah jangan sampai deh?!

Buya HAMKA : Eternal Flame, Breathtaking (Part 3-Ended)

Prolog: Terima kasih buat Oky atas ide dan bantuannya :) 

Setelah copy-paste di kedua artikel sebelumnya, inilah saatnya mengomentari Buya HAMKA, idola kita semua.

Membaca biografi beliau, membaca karya pemikiran beliau, menyaksikan napak tilas beliau di tayangan televisi dan mendengar pendapat orang membuat saya merinding karena kagum. Saya bukanlah tipe yang gampang kagum terhadap sesuatu atau seseorang, pun kalau kagum reaksi maksimal hanya tersenyum, tepuk tangan atau mengacungkan jempol. Tapi begitu mendengar Buya HAMKA, saya langsung merinding sampai kepala dan wajah saya pun ikut merinding. Kharisma dan akhlak karimah beliau bagai nyala api abadi yang akan menerangi nurani orang yang haus ilmu atau orang yang mencari akurasi pemahaman yang benar terhadap Islam.

Buya HAMKA adalah sosok yang dicintai oleh pengagumnya dan sosok yang disegani oleh lawannya. Beliau tidak hanya seorang ulama, cendekiawan, jurnalis, sastrawan dan tokoh tapi beliau adalah “diplomat” yang mampu memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang sesungguhnya. Diplomat yang membawa nama harum Islam dan Indonesia ke dunia luar. Mengenang sosoknya adalah sesuatu yang membesarkan hati, membuat rindu dan membuat sedih. Sedih dan rindu karena jaman sekarang ini tidak ada lagi tokoh secemerlang beliau. Bagaimana perjuangan dan ucapan beliau membuat saya terkagum-kagum dan tidak habis pikir, begitu mulianya seorang Buya sampai warga Jakarta harus mengantri untuk bergantian menyolati jenazah beliau, begitu besar maafnya sampai bersedia menyolatkan jenazah bahkan menjadi imam sholat jenazah Presiden Soekarno yang telah menjebloskannya ke penjara selama tiga tahun tanpa pengadilan dan ketika ditanya mengapa beliau mau menyolatkan Soekarno, kemudian dijawab “Soekarno sekarang sudah beda dengan Soekarno saat hidup” dan betapa diplomatisnya beliau saat memberikan ceramah tentang bahaya komunisme di khutbah Sholat Idul Fitri saat rejim Soeharto.

Masya Allah La Quwwata Illa Billah.

Dan saya pun tidak tahu harus menulis apa lagi, semoga kekaguman saya ini bukanlah suatu kultus individu atau sikap berlebihan karena mengenai niat dan perasaan saya yang sebenarnya terhadap beliau hanya saya dan Tuhan yang tahu. Semoga kita bisa meneladani tokoh yang sinar pesonanya menyala selamanya.

Buya HAMKA : Eternal Flame, Pluralism Calumny (Part 2)

Artikel ini adalah lanjutan dari Buya HAMKA : Eternal Flame, Biography (Part 1) dan disarankan membaca seri artikel ini dengan berurutan, silakan memberikan komentar di artikel “Buya HAMKA : Eternal Flame, Breathtaking (Part 3 -Ended) terima kasih.

Mengenai tulisan Syafii Maarif berjudul “HAMKA tentang Ayat 62 Al Baqarah dan Ayat 69 Al Maidah“  di Republika pada 21 November 2006 dan tulisan Ayang Utriza NWAY berjudul “Islam dan Pluralisme : Pandangan Sejarah” mengenai sikap Buya HAMKA terhadap Pluralisme mengundang berbagai reaksi dari berbagai pihak. Pihak yang kontra direpresentasikan oleh bantahan Adian Husaini, Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia di berbagai media yaitu:

1. Jangan Serampangan Menyeret Buya Hamka Ke Kutub Pluralisme

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Adian Husaini mengaku merasa sedih, apabila ada yang mencoba menyeret Buya Hamka kepada pluralisme agama. Upaya ini telah dilakukan oleh beberapa orang dalam kelompok yang mengagungkan paham pluralisme, yang secara umum menganggap semua agama agama adalah sama-sama sah menuju Tuhan yang satu.

“Saya tidak ridho kalau Buya Hamka diseperti itu kan, dengan dalih karena ada tafsir Hamka yang bersifat pluralis, seharusnya anak-anak beliau bisa mengkritisi ini, ” ujarnya dalam acara rangkaian peringatan seabad Buya Hamka, di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta.

Menurutnya, diseretnya Hamka ke kutub pluralisme itu salah satunya terlihat pada artikel yang berjudul “Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”, yang ditulis oleh Ayang Utriza NWAY. Sebagaimana kebanyakan penganut paham ini, penulis juga menggunakan QS Al-Baqarah ayat 62 sebagai rujukan pendapatnya.

“Celakanya dia mengutip pendapat Buya Hamka dalam tafsir al-Azhar secara serampangan, lalu membuat kesimpulan yang menyesatkan, yang intinya menganggap semua agama benar, ” kata Adian.

Jika penulis itu jujur membaca penafsiran Hamka, lanjutnya, pastilah tidak akan membuat kesimpulan seperti itu, sebab Hamka sangat menekankan makna ‘iman sejati’ adalah beriman kepada Allah, hari kiamat, dan beramal sholeh untuk mendapat jaminana di akhirat.

Adian Husaini menyatakan, gembira karena banyak orang yang menulis tentang Hamka, namun dirinya berharap penulis itu jujur, dan cermat dalam menuliskan pemikiran dan kiprah perjuangan Buya Hamka yang sangat jauh berbeda dengan kaum pluralis agama yang menyatakan bahawa kaum Yahudi, Kristen dan sebagainya adalah saudara seiman mereka.

Karena, tambahnya, Buya Hamka merupakan ulama yang memegang prinsip, salah satunya menegaskan fatwa haram mengucapkan selamat Natal, dan mengikuti perayaannya. Meski demikian, Ulama kelahiran Sungai Batang, Sumatera Barat, berupaya menjaga hubungan baik dengan siapapun.

Ternyata, sosok Buya Hamka tidak hanya menjadi teladan bagi umat Islam Indonesia, Tokoh Malaysia Anwar Ibrahim mengaku kenal dekat dengan Buya Hamka, karena keduanyasempat pergi bersama ke Iran, sebelum revolusi berlangsung.

Di mata Anwar, Hamka merupakan figur ulama yang lengkap, selain ulama beliau adalah seorang novelis yang menghasilkan karya berkesan yakni Di bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggalamnya Kapal van Der Wijk. Selain itu, Hamka juga ulama Indonesia yang toleran dan inklusif

“Ulama saat ini tidak ramai mengajurkan kita untuk membaca novel, dan tidak mencari media dakwah alternatif, ” ujarnya dalam Pembukaan Seminar Nasional Peringatan 100 tahun Buya Hamka, di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Selasa (8/4). (novel)

2. Jangan Memfitnah Buya HAMKA

Pekan lalu, sebuah berita gembira saya terima. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta telah mendirikan sebuah pusat studi bernama ”Pusat Kajian Buya Hamka” (PKBH). Dalam rangka menyongsong peringatan 100 tahun Hamka, yang akan jatuh pada 17 Februari 2008, PKBH akan menerbitkan sebuah buku berjudul ”Mengenang 100 Tahun Buya Hamka”. Saya diminta berpartisipasi untuk menulis satu artikel dalam buku tersebut.

Bagi kita, nama Hamka tidaklah asing. Dalam beberapa kali catatan, kita mengulas atau mengutip pendapat-pendapat Hamka. Semasa hidupnya, Hamka telah menulis sekitar 118 karya dalam berbagai bidang, baik sastra, sejarah, tasauf, etika, tafsir, dan sebagainya. Karya besarnya adalah Tafsir al-Azhar, yang ditulisnya semasa dalam tahanan rezim Orde Lama. Atas karya-karyanya, Hamka diangkat sebagai guru besar bidang tasauf di PTAIN Yogyakarta ( 1958  ), mendapat gelar Dr. HC bidang agama dari Universitas Al-Azhar Mesir (1958  ) dan bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

Berbagai kalangan diminta menyumbangkan tulisannya untuk buku Mengenang 100 Tahun Buya Hamka. Diantaranya, Prof. Dr. A. Malik Fadjar, Ali Sadikin, Prof. KH Ali Yafie, Prof. Dr. Amin Rais, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Emha Ainun Najib, Harmoko (mantan Menteri era Orde Baru), KH Hasyim Muzadi, Prof. Dr. Din Syamsuddin, Dr. M. Syafii Anwar, Henny Purwonegoro, Mieke Widjaya, dan banyak lagi yang lainnya. Jumlahnya sekitar 100 orang. Dengan penulisan buku seperti ini, barangkali panitia mengharapkan, akan tergambar sosok Hamka yang ketokohannya diakui oleh berbagai kalangan masyarakat dengan corak serta aliran pemikiran.

Harapan kita, mudah-mudahan buku itu nantinya akan memberikan gambaran yang benar terhadap sosok Hamka dan pemikirannya. Jangan sampai, sosok dan pemikiran Hamka dipersepsikan dengan keliru, sehingga menjadi fitnah bagi Hamka. Kita pernah membahas, bagaimana seorang doktor penyebar paham Pluralis Agama di Indonesia, dengan gegabah mengutip Tafsir al-Manar, dan menyebut Rasyid Ridha sebagai pendukung paham Pluralisme Agama. Meskipun sudah kita koreksi dan kita tunjukkan kekeliruannya, sang doktor itu enggan mengoreksi bukunya. Ilmuwan-ilmuwan model seperti ini, meskipun dikenal cerdik, sulit dipercaya lagi kejujurannya.

Kita juga pernah membahas, ada sejumlah penulis yang keliru – entah sengaja atau tidak — dalam mengungkapkan pemikiran Hamka. Bahkan, ada yang sengaja memanipulasi pendapat Hamka, sehingga, seolah-olah Hamka adalah seorang pendukung paham Pluralisme Agama. Sebagai contoh, sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Universitas Paramadina berjudul ”Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang Nurcholish Madjid, (2007). Buku ini diberi kata pengantar oleh Dawam Rahardjo, dengan editor Abd. Hakim dan Yudi Latif.

Seperti sejumlah buku terbitan Paramadina lainnya, buku berupa kumpulan tulisan berbagai penulis ini juga secara besar-besaran mempromosikan paham Pluralisme Agama. Sebagai misal, dalam artikelnya yang berjudul Mengapa Membumikan Kemajemukan dan Kebebasan Beragama di Indonesia?, Muhammad Ali, dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta, menulis:

”Al-Qur’an juga menjelaskan dalam banyak ayat-ayatnya adanya persaudaraan hanafiyyah samhah dan persaudaraan kemanusiaan. Dalam konsep al-Qur’an, penganut agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah saudara seiman dan sebapak, Ibrahim, meskipun mereka saling berselisih dalam sejarahnya. Agama-agama mereka adalah satu dan berasal dari satu Tuhan. Lebih luas lagi bahkan, selain Yahudi dan Kristen, Islam juga bersaudara dengan seluruh penganut keberagamaan yang benar, yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan. Tuhan menurunkan ratusan ribu nabi-nabi dan rasul-rasul yang tidak diceritakan siapa mereka. Karenanya tidak ada alasan untuk mengafirkan dan mengutuk masuk neraka Konfusianisme, Buddha, Mirza Ghulam Ahmad, dan penganut-penganut keyakinan lainnya. Apalagi al-Quran juga menjelaskan, tidak ada perbedaan antar para nabi dan perbedaan dan perselisihan antar-umat beragama harus diserahkan kepada Tuhan saja.” (hal. 256).

Kita tentu sulit memahami, apa sebenarnya isi kepala dosen ushuluddin UIN Jakarta yang sedang mengambil doktor di Hawai, USA, ini. Kaca mata apa dan konsep apa yang dipakai untuk membaca ayat-ayat al-Quran. Padahal, dalam surat al-Fatihah saja, sudah disebutkan ada jalan yang lurus (shirathal mustaqim), dan ada jalan orang-orang yang dimurkai Allah dan ada jalan orang-orang yang sesat. Begitu banyak ayat al-Quran yang menjelaskan, lengkap dengan ciri-cirinya, siapa yang disebut mukmin, siapa kafir, dan siapa munafik.

Kita tidak perlu menguraikan lebih jauh kekeliruan pemikiran dosen Ushuluddin UIN Jakarta ini. Sebab, disamping sangat kacau, juga sangat naif. Kita hanya patut mengajukan pertanyaan kepada keluarga dan pimpinan UIN Jakarta, jika Muhammad Ali menyebut kaum Yahudi, Nasrani, dan sebagainya ”saudara seiman”, bagaimana jika dia meninggal nanti, maka jenazahnya dikuburkan saja di pemakaman Yahudi atau Kristen? Atau jenazahnya ditaruh di bawah pohon sebagaimana tradisi satu agama suku di Indonesia?

Yang lebih menyedihkan adalah artikel berjudul ”Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”, ditulis oleh Ayang Utriza NWAY, seorang alumnus Fakultas Syariah UIN Jakarta, yang menyelesaikan masternya di Paris. Sebagaimana banyak penganut paham Pluralisme Agama, penulis ini juga menggunakan QS Al-Baqarah ayat 62 sebagai rujukan pendapatnya. Celakanya, dia mengutip pendapat Hamka dalam Tafsir al-Azhar secara serampangan, lalu membuat kesimpulan yang menyesatkan. Dia menulis dalam artikel ini:

 

”Buya Hamka dengan sangat mengagumkan menafsirkan ayat ini. Ia menulis ”Kesan pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk sekalian agama dan dunia ini [...]. Ayat ini sudah jelas menganjurkan persatuan agama, jangan agama dipertahankan sebagai golongan, melainkan hendaklah selalu menyiapkan jiwa mencari dengan otak dingin, manakah dia hakikat kebenaran. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat, diikuti amal saleh. Kita tidak akan bertemu suatu ayat yang begini penuh dengan toleransi dan lapang dada, hanyalah dalam al-Qur’an. Suatu hal yang amat perlu dalam dunia modern.” Lebih jauh Buya Hamka mengutip hadits yang diriwayatkan dari Ibn Abi Hatim dari Salman al-Farisi yang bertanya kepada Rasulullah tentang agama mana yang paling benar dari semua agama yang pernah dimasuki olehnya: Majusi, Nasrani, dan Islam. Rasulullah menjawab dengan QS 2:62 tersebut.” (hal. 306-307).

Lalu, penulis yang juga peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina ini, mengutip pendapat Hamka yang tidak setuju dengan pendapat Ibn Abbas bahwa QS 2:62 itu sudah dinasakh oleh QS 3:85.

”Buya Hamka menyatakan: ”Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan (dihapus) oleh ayat 85 surat Ali Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk dia saja [...].”

Yang kemudian sangat sembrono dan tidak etis, adalah kesimpulan yang dibuat oleh penulis, bahwa:

”Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam, yang hanya bermodalkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam, maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah, yaitu surga. Sebaliknya jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya, walaupun tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia akan mendapatkan ganjaran dari Allah: surga.” (hal. 307).

Sebenarnya, jika seorang peneliti dan penulis yang jujur dalam membaca penafsiran Hamka terhadap QS 2:62, pastilah tidak akan membuat kesimpulan seperti itu. Sebab, Hamka memang tidak menyimpulkan seperti itu. Dalam tafsirnya, Hamka menulis tentang hadits Ibn Abi Hatim sebagai berikut:

”Telah meriwayatkan Ibnu Abi Hatim daripada Salman, berkata Salman, bahwasanya aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. dari hal pemeluk-pemeluk agama yang telah pernah aku masuki, lalu aku uraikan kepada beliau bagaimana cara sembahyang mereka masing-masing dan cara ibadah mereka masing-masing. Lalu aku minta kepada beliau manakah yang benar. Maka beliau jawablah pertanyaanku itu dengan ayat: Innalladzina amanu wal-ladzina hadu dan seterusnya itu.”

Artinya ialah bahwa perlainan cara sembahyang atau cara ibadah adalah hal lumrah bagi berbagai ragam pemeluk agama, karena syariat berubah sebab perubahan zaman. Tetapi manusia tidak boleh membeku disatu tempat, dengan tidak mau menambah penyelidikannya, sehingga bertemu dengan hakikat yang sejati, lalu menyerah kepada Tuhan dengan sebulat hati. Menyerah dengan hati puas. Itulah dia Islam.” (Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juzu’ I, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982) hal. 216).”

Hamka sangat menekankan bahwa makna ”iman sejati” adalah beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, dan beramal shalih. Jadi, formalitas Islam, atau ”mengaku-aku Islam” saja – tanpa diikuti dengan keyakinan yang mendalam dan amal shalih — memang tidak menjamin keselamatan di akhirat. Siapa pun akan setuju dengan kesimpulan Hamka ini. Tetapi, perlu dicatat, Hamka sama sekali tidak berpendapat, bahwa kaum Yahudi, Kristen, Shabiin, dan lain-lain, semuanya akan masuk surga, tanpa perlu masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw dan beriman kepada al-Quran. Hamka menulis:

”Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang diturunkan Allah kepada para RasulNya; tidak membeda-bedakan diantara satu Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan.” (Ibid, hal. 213).

Justru disinilah persolan bagi kaum Yahudi dan Kristen, karena mereka menolak kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran. Karena itu, dalam tafsirnya ini, Hamka juga mengutip hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Muslim:

”Berkata Rasulullah s.a.w.: Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”

Lalu, selanjutnya, Hamka menjelaskan makna hadits Rasul saw tersebut:

”Dengan hadits ini jelaslah bahwa kedatangan nabi Muhammad s.a.w. sebagai penutup sekalian Nabi (Khatimil Anbiyaa) membawa Al-Quran sebagai penutup sekalian Wahyu, bahwa kesatuan ummat manusia dengan kesatuan ajaran Allah digenap dan disempurnakan. Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani, melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai. Maka, orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak Wahyu yang dia bawa. Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak. Sebab iman mereka kepada Allah tidak sempurna, mereka menolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah.” (Ibid, hal. 217-218).

Inilah penafsiran Hamka tentang QS 2:62, yang telah dikutip dan disimpulkan secara keliru oleh peneliti Paramadina yang mengaku pernah kuliah pasca sarjana di Universitas Al-Azhar Kairo. Kita sangat menyesalkan cara-cara seperti ini, yang jauh dari etika ilmiah. Apalagi, buku ini dimaksudkan untuk mengenang orang yang disanjung-sanjung oleh kaum liberal sebagai salah satu ”cendekiawan terkemuka” di Indonesia. Kita gembira dengan banyaknya orang yang menulis tentang Hamka, tetapi kita berharap mereka jujur dan cermat dalam menulis. Pemikiran dan kiprah perjuangan Buya Hamka jelas amat sangat jauh bedanya dengan kaum Pluralis Agama yang menyatakan bahwa kaum Yahudi, Kristen, dan sebagainya, adalah ”saudara seiman” mereka.

Jadi, kita memohon, jangan lagi menfitnah Buya Hamka! Nanti bisa celaka di dunia dan Akhir Masa. Wallahu A’lam.
Hamka, pernah mundur dari Ketua MUI daripada harus menarik fatwa haramnya merayakan “Natal Bersama” . Apalagi mendukung ‘Pluralisme Agama’ Baca CAP Adian Husaini ke-172

Oleh: Adian Husaini

Pada Selasa, 21 Nopember 2006, Syafii Maarif  menulis kolom resonansi di Republika yang berjudul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”. Hari  itu, saya sedang di Gresik mengisi acara kajian tentang Islam Liberal di Pesantren Maskumambang Gresik, Jawa Timur. Mulai pagi hingga malam hari, bertubi-tubi SMS masuk ke HP saya yang mempersoalkan isi tulisan Syafii Maarif tersebut. Rabu paginya, setibanya di Jakarta, saya baru sempat membaca tulisan Syafii Maarif. Setelah saya cek ke Tafsir al-Azhar, karya Buya Hamka, seperti  yang dirujuk Syafii Maarif, memang ada sejumlah hal yang perlu diperjelas dari tulisan Syafii, agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru terhadap sosok Prof. Hamka, ulama terkenal yang legendaris.

Pluralisme Agama tampaknya memang sudah menjadi alat penghancur aqidah Islam yang sangat intensif disebarkan ke berbagai pelosok. Kamis (30 November 2006), malam, seseorang yang tinggal di satu kota kecil di propinsi Banten, menelepon saya dan meminta untuk datang ke kota itu karena baru saja diselenggarakan satu seminar yang menyebarkan paham “Pluralisme Agama”.

Ayat Al-Quran yang dibahas Syafii Maarif memang saat ini sedang  gencar-gencarnya disosialisasikan oleh kalangan pendukung paham Pluralisme Agama untuk menjustifikasi paham Pluralisme Agama, bahwa semua agama adalah merupakan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang satu. Tidak peduli siapa pun nama dan sifat Tuhan itu ; dan tidak peduli bagaimana pun cara menyembah Tuhan itu.

Dalam bahasa Nurcholish Madjid: ‘’bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama.’’ Dalam bukunya,  The World’s Religions, Huston Smith juga menulis satu sub-bab berjudul “Many Paths to the Same Summit”. Ia menulis: “Truth is one; sages call it by different names.” (Kebenaran memang satu; orang-orang bijak menyebutnya dengan nama yang berbeda-beda).

Jadi, dalam pandangan Pluralisme Agama – versi transendentalisme – ini, tidak ada agama yang salah, dan tidak boleh satu pemeluk agama yang mengklaim hanya agamanya sendiri sebagai jalan satu-satunya menuju Tuhan. Kalangan Pluralis kemudian mencari-cari dalil dalam kitab sucinya masing-masing untuk mendukung paham ini. Yang dari kalangan Islam biasanya menjadikan QS 2:62 dan 5:69 untuk menjustifikasi pandangannya. Kalangan Hindu pluralis, misalnya,  biasanya suka mengutip Bagawad Gita IV:11: “Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima.” 

Tentu saja, legitimasi paham Pluralisme Agama dengan ayat-ayat tertentu dalam kitab suci masing-masing agama mendapatkan perlawanan keras dari masing-masing agama. Tahun 2000, Vatikan telah menolak Paham Pluralisme dengan mengeluarkan dekrit ‘Dominus Jesus’.

Tahun 2004, seorang pendeta Kristen di Malang menulis buku serius tentang paham Pluralisme Agama berjudul: “Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini”.  Tahun 2005, MUI juga mengeluarkan fatwa yang menolak paham Pluralisme Agama. Dan tahun 2006, Media Hindu juga menerbitkan satu buku berjudul “Semua Agama Tidak Sama.”  Buku ini juga membantah penggunaan ayat dalam Bhagawat Gita IV:11 untuk mendukung paham penyamaan agama yang disebut juga dalam buku ini sebagai paham Universalisme Radikal’.

Penyalahgunaan

Di kalangan kaum Pluralis agama yang beragama Islam, QS 2:62 dan 5:69 biasanya dijadikan legitimasi untuk menyatakan, bahwa umat beragama apa pun, asalkan beriman kepada Tuhan dan Hari Akhir, serta berbuat baik terhadap sesama manusia, maka dia akan mendapat pahala dari Allah dan masuk sorga. Tidak pandang agamanya apa, Tuhannya siapa, dan bagaimana cara menyembah Tuhannya. Karena itu, untuk mendapatkan keselamatan di akhirat, kaum Yahudi dan Kristen, misalnya, tidak perlu beriman kepada Nabi Muhammad saw. Untuk mencari legitimasi, yang sering dijadikan rujukan adalah ‘Tafsir al-Manar’-nya yang ditulis oleh Rasyid Ridha.

Prof. Abdul Aziz Sachedina, misalnya, dalam satu artikelnya berjudul “Is Islamic Revelation an Abrogation of Judaeo-Christian Revelation? Islamic  self-identification”, menyatakan: “Rasyid Ridha tidak mensyaratkan iman kepada kenabian Muhammad bagi kaum Yahudi dan Kristen yang berkeinginan untuk diselamatkan, dan  karena itu, ini secara implisit  menetapkan validitas kitab Yahudi dan Kristen.

Sachedina dan sejumlah Pluralis lainnya tidak cermat dan tidak lengkap dalam mengutip Tafsir al-Manar, sehingga berkesimpulan seperti itu. Padahal, dalam Tafsir al-Manar Jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), disebutkan, bahwa QS 2:62 dan 5:69 adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang kepada mereka yang dakwah Nabi Muhammad saw tidak sampai. Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka (sesuai rincian QS 3:199), Rasyid Ridha menetapkan lima syarat keselamatan, diantaranya: (1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan  kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan, (2) beriman kepada Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad.

Al-Manar juga menyebutkan, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani, tidak bisa disebut ahl al-fathrah, yang berhak memperoleh keselamatan dan tidak ada alasan pemaaf yang bisa membebaskan mereka dari hukuman (lâ ‘udzr lahum dûn al-’uqûbah), karena mereka masih dapat mengenali ajaran kenabian yang benar.

Dengan logika sederhana sebenarnya kita bisa memahami, bahwa untuk dapat “beriman kepada Allah” dan Hari Akhirat dengan benar dan beramal saleh dengan benar, sebagaimana disyaratkan dalam QS 2:62-dan 5:69, seseorang pasti harus beriman kepada Rasul Allah saw, yaitu Nabi Muhammad saw. Sebab, dalam konsep keimanan Islam, hanya melalui Rasul-Nya, kita dapat mengenal Allah dengan benar; mengenal nama dan sifat-sifat-Nya. Juga, hanya melalui Nabi Muhammad saw, kita dapat mengetahui, bagaimana cara beribadah kepada Allah dengan benar. Jika tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw, mustahil manusia dapat mengenal Allah dan beribadah degan benar, karena Allah SWT hanya memberi penjelasan tentang semua itu melalui rasul-Nya.

Pendapat Hamka

Pendapat Hamka tentang keselamatan kaum non-Muslim dalam pandangan Islam sebenarnya juga tidak berbeda dengan para mufassir terkemuka  yang lain. Termasuk ketika menafsirkan QS 2:62  dan 5:69. Karena itu, Hamka memandang, ayat itu tidak bertentangan dengan QS 3:85 yang menyatakan: “Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi.” Jadi, QS 3:85 tidak menasakh QS 2:62 dan 5:69 karena memang maknanya sejalan.

Alasan Hamka bahwa ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 – sebagaimana juga dikutip Syafii Maarif – bahwa “Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmanNya, segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.”

Jadi, Hamka tetap menekankan siapa pun, pemeluk agama apa pun,  akan bisa mendapatkan pahala dan keselamatan, dengan syarat dia beriman kepada segala firman Allah, termasuk Al-Quran, dan beriman kepada semua nabi dan rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad saw. Jika seseorang beriman kepada Al-Quran dan Nabi Muhammad saw, maka itu sama artinya dia telah memeluk agama Islam. Dengan kata lain, dalam pandangan Hamka, siapa pun yang tidak beriman kepada Allah, Al-Quran, dan Nabi Muhammad saw, meskipun dia mengaku secara formal beragama Islam, tetap tidak akan mendapatkan keselamatan. Itulah makna QS 3:85 yang sejalan dengan makna QS 2:62 dan 5:69.

Soal keimanan kepada Nabi Muhammad saw dan Al-Quran itulah yang sejak awal ditolak keras oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Orang Yahudi menolak mengimani Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw. Dan kaum Nasrani menolak untuk beriman kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan kaum Muslim mengimani Nabi Musa, Nabi Isa, dan juga Nabi Muhammad saw, sebagai penutup para Nabi.   

Hamka adalah sosok ulama yang gigih dalam membela aqidah Islam. Tahun 1981, dia memilih mundur dari Ketua Majlis Ulama Indonesia, daripada harus menarik kembali fatwa haramnya merayakan Natal Bersama bagi umat Islam. Beberapa hari kemudian, beliau meninggal dunia. Sosok Hamka sangat jauh bedanya dengan para pengusung paham Pluralisme Agama.  Hamka sangat tegas dalam masalah keimanan.

Dalam catatan ini, kita pernah mengutip satu tulisan Buya Hamka yang berjudul: “Toleransi, Sekulerisme, atau Sinkretisme.”  Di situ, Prof. Hamka menyebut tradisi perayaan Hari Besar Agama Bersama bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau toleransi, tetapi akan menyuburkan kemunafikan. Di akhir tahun 1960-an, Hamka memberikan komentar tentang usulan akan perlunya diadakan perayaan Natal dan Idul Fithri bersama, karena waktunya berdekatan.

Hamka menulis:  “Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu’ bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi, melainkan penjahat. Dan Al-Quran bukanlah kitab suci melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak,  baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan al-Quran, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah satu ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima… Pada hakekatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka, kedua belah pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka. Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima, kita tidak Kristen lagi.  Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor dan pendeta menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus.”

Kita perlu menggarisbawahi  ungkapan Buya Hamka, bahwa “dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi.”

Ya, tentu kita maklum, bahwa dalam soal keyakinan memang tidak ada kompromi. Jika kita yakin bahwa Iblis adalah musuh yang nyata, maka tidak mungkin kita juga mengakuinya sebagai teman akrab. Jika seorang Muslim  yakin bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib, maka tidak mungkin pada saat yang sama dia juga meyakini konsep trinitas dalam Kristen. Lakum dinukum waliya din. Bagi kami agama kami, bagi anda agama anda. Demikianlah sikap yang diajarkan dalam Al-Quran. Kita menghormati keyakinan orang lain, tanpa mengurangi keyakinan kita sebagai seorang Muslim. (Depok, 1 Desember 2006/www.hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

[Jakarta, 28 Desember 2007]

Buya HAMKA : Eternal Flame, Biography (Part 1)

Buya HAMKA (1908-1981), adalah akronim dari nama Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padangpanjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).

Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.

Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.

Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.

Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

Artikel ini dikutip dari : Gun Zone’s Blog

Bagi pengunjung yang ingin memberikan komentar, silakan memberikan komentarnya di Buya HAMKA : Eternal Flame, Breathtaking (Part 3 - Ended)

Barang Mewah Bernama Pendidikan Bermutu

Isu pendidikan di pemberitaan media massa masih menjadi perhatian dan minat saya untuk terus mengikuti perkembangan pendidikan di Indonesia, terutama mengenai mahalnya biaya pendidikan yang bermutu. Ada uang murid disayang, tak ada uang murid ditendang.

Menyaksikan dari dekat pasang surut romantika sistem pendidikan beserta perjuangan para pihak yang terlibat aktif di dalamnya membuat saya berpikir bagaimana nasib anak saya kelak? Apakah saya harus menyekolahkannya ke sekolah internasional atau luar negeri? Yang artinya saya dan suami harus bekerja lebih giat untuk menabung biaya pendidikan Insyira kelak dan itu mungkin juga menunda keinginan punya anak ketiga (anak kedua kami adalah mobil). Sebagai bukti perhatian saya terhadap pendidikan adalah dengan memasukkan Insyira ke asuransi pendidikan yang menurut pengalaman para senior terbukti manjur membantu keuangan keluarga. Apalagi asuransi tersebut meng-cover dari TK sampai Kuliah.

Iya, saya dan beberapa orang di luar sana mempunyai satu pendapat yang berdasarkan dari fakta di lapangan bahwa pendidikan yang bermutu memerlukan berpuluh-puluh bahkan sampai ratusan juta rupiah. Pendidikan bermutu yang terdapat di sekolah negeri, sekolah swasta terpadu, sekolah swasta internasional dan sekolah di luar negeri. Sekolah yang kurikulumnya berbasis kompetensi, sekolah yang mau bertoleransi kepada sikap asertif dan outspoken siswa cerdas, yang sabar menerima teror pertanyaan kritis siswa cerdas, yang mengadakan experience learning kepada siswanya, yang memungkinkan si siswa melanjutkan jenjang pendidikannya ke sekolah atau universitas yang mutunya pun diakui internasional, yang memberikan kesempatan lebih banyak untuk memperoleh karir yang lebih baik dan pastinya yang memberikannya teman sekolah yang juga cerdas dan rajin. Memang sekolah yang seperti itu harus dibayar dengan banyak sekali uang, jangan pernah membayangkan tabungan kita akan cukup karena sepertinya harus menabung seumur hidup.

Saya tidak akan mengutuk siapa-siapa disini, tapi ingin mengajak siapa saja yang berada dalam situasi serupa dan memiliki visi dan misi yang serupa dengan saya, bahwa demi pendidikan bermutu kita harus bekerja keras dan cerdas, pandai mengelola uang dan cermat mengikuti perkembangan sistem pendidikan di Indonesia.

Demi mendapatkan barang mewah ini, dulu saya tidak pernah membolos sekolah meski di sekolah saya juga bukan siswa yang berprestasi bintang, saya camkan betul dalam hati bahwa demi saya dan ketiga kakak, Papa bekerja keras dengan rincian yaitu pergi dan pulang naik bis ke ujung Jakarta sana supaya bisa menghemat uang bensin mobil, membawa makan siang dari rumah supaya bisa menghemat uang lagi, bekerja tak kenal waktu termasuk menerima pekerjaan freelance untuk tambahan tabungan, bahkan setelah pensiun 15 tahun yang lalu masih bekerja karena 15 tahun yang lalu saya masih kelas 6 SD dan ketiga kakak masih kuliah dan bahkan sekarang di usianya yang hampir 71 tahun beliau masih menjadi akuntan yang ahli di bidang keuangan, pembukuan, manajemen, pajak dan personalia.

Sekarang, saya pun berusaha meneladani dedikasi Papa dalam mencari uang, meski tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan beliau, tapi saya mulai menghemat uang makan siang dan kira-kira seperti ini rasanya menjalani tanggung jawab demi anak, agar saya dan suami bisa “membelikan” Insyira sebuah barang mewah bernama pendidikan bermutu.

Next Page »